Narasi 1 - (884 Kata)

Tok, tok, tok.

Winter menengok ke arah sumber suara yang berasal dari pintu kamarnya, ia melihat ada ibunda tercintanya sedang bersandar ke pintu kamar yang terbuka lebar. Oh, ternyata tadi Mamanya yang mengetuk pintu.

Mama Winter tersenyum memperhatikan anak satu-satunya yang sedang berkacak pinggang di depan koper yang akan ia bawa, “Sudah selesai packing-nya, Dek?”

“Dikit lagi, Mam. Ini aku tinggal masukin obat-obatan, then everything’s settled,” jawab Winter sambil mengedarkan pandangan pada isi koper dan barang-barang di sekelilingnya, berpikir apakah ada lagi yang perlu ia bawa, “Semoga sih, hehehe.”

Mama Winter hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Winter, “Yeee kamu tuh, coba sini mama lihat.” Mama Winter atau yang lebih akrab disebut Tante Tata oleh teman-teman Winter melangkah ke arah Winter dan bersiap untuk duduk di depan kopernya.

Winter dengan sukarela (dan senang hati) bergeser dari posisinya menata isi koper tadi. Ini lah salah satu sifat wanita terfavoritnya di dunia yang akan sangat ia rindukan, sifat perhatiannya yang tidak pernah lekang oleh waktu. Usia Winter yang sudah melewati seperempat abad pun tidak mengubah perlakuan sang ibu kepadanya sama sekali.

Mamanya pun ikut duduk di depan koper, menelusuri lipatan berbagai pakaian dan barang-barang lain yang terselip di sela-sela pakaian dan ruang di dalam koper, mengecek sekiranya apa lagi yang Winter butuhkan untuk bertahan hidup di negeri Paman Sam yang jauh disana.

Sesungguhnya, ia masih belum benar-benar rela melepas Winter pergi jauh untuk waktu yang lama. Di sepanjang hidupnya, mereka bertiga (dirinya, Papa Winter, dan Winter) tidak pernah hidup berjauhan satu sama lain, kalaupun berjauhan paling lama hanya 1-2 bulan saja. Mereka sempat berdebat ketika Winter mengutarakan niatnya untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat,

Kenapa harus Amrik?
Di Indonesia belum ada yang mumpuni kah?
Memangnya di Singapore nggak ada?
Aussie lebih deket loh, Adek nggak mau kesana aja?
Kesana jauh, Dek, kalau Mama mau jenguk gimana?
Kalau Mama kangen sama Adek, tapi ternyata Adek masih tidur gimana?

Oke, sebetulnya dua pertanyaan terakhir berasal dari kekhawatiran dirinya, berharap ampuh untuk meluluhkan hati anaknya. Namun, Winter tetap lah Winter, ketika ia menyimpan suatu mimpi, ia akan bersikeras untuk mewujudkannya.

Namun, terlepas dari itu semua, ia teramat sangat bangga dan bahagia atas pencapaian Winter. Menyaksikan tumbuh kembang anaknya, ia selalu tahu bahwa anaknya adalah sosok yang sangat gigih. Termasuk saat ia berjuang untuk melewati masa-masa itu. Selain karena dukungan dari orang-orang di sekitarnya, ia yakin segalanya saat itu tidak akan terlewati jika bukan dari kemauan keras Winter sendiri.

Lamunan sang Mama terpecah kala Winter berbicara, “Baju celana daleman udah, mantel udah, suit blazer rok pun juga udah, kemeja-kemejaan juga udah. Alat-alat musik aku udah aku masukin ke koper khusus, koper yang ini cuma pakaian, alas kaki, dan printilan-printilan aja sih, Mam.”

“Itu laptop sama iPad kamu belum diberesin tuh, nanti mau kamu masukin kemana?” Tanya Mama Winter sambil melihat sekeliling kamar.

Winter melihat ke arah dimana beberapa gawainya terletak, “Aku masukin ke tas laptop terpisah, Mam. Itu nanti aku bawa ke kabin.”

Kembali mengembalikan pandangan ke isi koper, sang Ibu melanjutkan inspeksinya, “Ini yakin mantel cuma bawa satu? Kamu nggak mau bawa jaket lagi? Kamu biasanya nyetok hoodie, Dek? Hoodie favorit kamu itu nggak kamu bawa?”

Terima kasih Mama karena Winter jadi ingat belum memasukkan jaket, “Oiya, nanti aku masukin deh satu jaket.” Lalu, ia melanjutkan sambil melihat-lihat sekeliling kamarnya, “Tadinya aku mau bawa hoodie, tapi lipetannya tebel banget jadi buang-buang space di koper. Aku beli lagi aja disana, pasti ada hoodie buat merch kampus gitu disana pas welcoming event,”

“Mama kan suka ngoleksi-ngoleksi merch kampus gitu ya, nanti aku fotoin deh kalau mama mau beli.”

Winter tidak mendengar balasan apapun dari Mamanya. Ternyata, beliau sedang berusaha menahan tangisnya ketika Winter menolehkan kepalanya ke arah beliau,

“Ya ampun, Mam, kok nangis?!?”

Winter melihat Mama-nya menggelengkan kepala, “Nggak apa-apa, Dek. Mama mendadak terharu aja ngelihat kamu packing barang begini, mau lanjut master, ke luar negeri pula. Mama bangga sama kamu, Nak,” ucap sang Mama, menyeka air mata yang lama kelamaan berlinangan. Bagi Mama, ternyata lebih dari lima bulan waktu yang diberikan kepadanya sejak Winter mengumumkan kelulusan tidak cukup melegakan hatinya untuk melepas anak satu-satunya. Baginya, selama apa pun waktu yang diberikan sepertinya tidak akan pernah cukup.

Dalam sekejap, Winter bergerak mendekat lalu memeluk Mama-nya erat-erat. Menelusupkan kepala ke ceruk leher sang Mama, memejamkan mata serta menggigit bibir menahan tangis.

“Makasih ya, Dek, udah mau berjuang. Terlepas apa pun hasilnya, Adek akan selalu jadi kebanggaan Mama dan Papa. Adek mau pergi jauh kemana pun, asalkan itu bisa jadi hal baik buat Adek ke depannya, Mama dan Papa akan selalu dukung,” ucap sang Mama yang dibalas anggukan oleh Winter. Ia tidak sanggup membalas ucapan sang mama tanpa disertai tangisan dan suara yang bergetar, hanya sanggup menjawab terima kasih Mam berulang kali dalam hati.

“Pesan dari mama cuma satu, sejauh apa pun Adek pergi, tolong jangan lupa pulang ya Nak? Temani mama dan papa disini.” Mama Winter mengelus lembut punggung sang anak, berusaha menyalurkan rasa sayang dan bangga kepada anak semata wayangnya.

Sosok mungil yang dulu hampir tidak pernah lepas dari gendongannya, sekarang pelan-pelan melepaskan diri untuk belajar mandiri, mencoba menjajaki dunia lebih luas lagi. Jari jemari anaknya yang dulu muat dalam satu genggamannya, saat ini justru kedua tangannya yang digenggam oleh jari jemari itu, seakan memberi isyarat bahwa ini gilirannya untuk bekerja keras dan berjanji, iya Mam aku nggak akan kemana-mana.