Dalam memulai suatu tindakan, saya, setelah sadar bahwa saya harus membenahi kehidupan, merasa bahwa saya harus melakukan ‘inventarisasi’ terhadap apa-apa saja yang berkaitan dengan tindakan saya, terutama dengan suatu tindakan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, atau sejumlah tindakan, termasuk kebiasaan-kebiasaan, yang butuh saya eliminasi dari kehidupan saya.
Terdengar berat, tapi beberapa buku yang saya baca tentang minimalisme kehidupan mengantarkan saya untuk setuju dengan kedisiplinan diri untuk selalu mempertanyakan segala hal yang berkaitan dengan apa yang saya lakukan.
Saya sampai ada di tahap yakin bahwa segalanya butuh dipertanyakan. Segalanya butuh dipertimbangkan. Segalanya selalu harus mempunyai alasan.
Tapi yang saya rasakan, yang kemungkinan besar dipengaruhi faktor bahwa saya belum cukup lama terbenam dalam proses kedisplinan tersebut, adalah sebuah kesesatan yang membingungkan. Kesesatan yang selalu ditandai dengan pertanyaan, “lalu apa?” atau “lalu, bagaimana caranya?”, “lalu, apa yang harus saya lakukan?”.
Termasuk, diantara hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, menulis sebuah blog pribadi.
Sudah seringkali saya mencoba, sudah seringkali saya membuat akun dan kemudian menghapusnya, sudah seringkali rencana demi rencana dirumuskan. Tapi tak satupun ada ketetapan hati untuk memutuskan.
Yang saya sadari adalah, semakin saya menekan hasrat saya untuk tidak menuliskan sebuah blog pribadi, saya selalu dihantui dengan perasaan impulsif saya untuk memulai lagi dan lagi.
Tapi hanya sebatas itu.
Karena hal yang selanjutnya terjadi adalahnya berjalannya sistem pada diri saya tentang pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritis seperti, “tujuannya apa?”, “apakah harus sekarang?”, “kalaupun butuh, blog seperti apa yang ingin diwujudkan?”.
Sejumlah pertanyaan kritis tersebut, menurut saya, tetaplah baik dan harus dilakukan. Tapi, lain ceritanya apabila pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut malah menghambat saya. Malah tidak membantu saya mengartikulasikan dengan baik apa yang sebenarnya saya butuhkan. Malah ‘membunuh’ apa yang sebenarnya penting bagi saya.
Sampai akhirnya, saya, saat ini, mengulang lagi loop yang sama seperti yang sudah-sudah.
Sampai saya akhirnya harus berhadapan dan mempertanyakan keyakinan saya,
“benarkah segala sesuatu butuh alasan?”
Saya berusaha mengulik dengan singkat segala hal yang merupakan negasi dari pernyataan dari pertanyaan tersebut.
Tapi, ternyata saya sulit menemukannya. Dimungkinkan karena nilai-nilai yang saya anut, saya sulit menemukan kenyataan bahwa ada sesuatu yang tidak butuh alasan. Apapun yang saya temukan, dalam pemikiran saya, pada suatu tingkatan tertentu, segala sesuatu akan selalu ada dengan alasan. Segala sesuatu pastilah ada karena alasan. Segala sesuatu, ternyata, butuh alasan.
Lekas, terhadap pemikiran saya tersebut, saya mempertanyakannya kembali dengan pertanyaan,
”isn’t it reverse-Nihilism?”
Saya mendengar istilah Nihilisme pertama kali pada sebuah channel Youtube Mark Manson, penulis buku “The Subtle Art of Not Giving a Fuck”. Dimungkinkan, istilah Nihilisme, apa yang saya dengar di channel Mark Manson, bukanlah kali pertama saya mendengarnya. Hanya saja, dari Mark Manson-lah istilah Nihilisme sangat meninggalkan kesan bagi saya.
Mark, dalam videonya, mengakui bahwa dirinya menganggap dunia pada dasarnya tidak mempunyai arti, sampai kita memberikan arti. Mark menekankan, dalam menganut Nihilisme, kita mempunyai dua pilihan: memllih untuk menyerah pada ketiadaan arti di dunia, atau, karena paham bahwa dunia pada dasarnya tidak memiliki arti, kita bisa secara bebas memberikan arti. Pilihan kedua tersebut umumnya disebut dengan reverse-Nihilism atau Existentialism.
Menyikapi Nihilisme dengan memilih reverse-Nihilism, secara tidak langsung, akan memberikan sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu, jikalau mempunyai arti, pastilah kita sendiri yang memberikan arti. Kitalah sang pemberi kisah akan suatu hal. Kitalah sang pembuat arti, kitalah sang pembuat alasan.
Namun, bagi saya, sulit menerima bahwa suatu tindakan, yang alasan dibaliknya saya pertanyakan, pada dasarnya tidak mempunyai arti. Bahwa alasan dari sebuah tindakan yang saya pertanyakan, jikalau mengantarkan saya ke sebuah jawaban yang memuaskan sekalipun, pada dasarnya merupakan suatu konsep abstraksi yang saya sematkan sendiri, disadari maupun tidak. Bahwa sayalah orang yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang saya ajukan sendiri, yang seakan-akan, dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tersebut, hadir sebagai sebuah pembenaran yang berperan sebagai jalan, dan batasan jalan, bagi saya untuk mendekati jawaban yang sudah saya sediakan sendiri.
Pemikiran-pemikiran tersebut, pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini berkaitan erat dengan konsep alam sadar dan alam bawah sadar.
Saya merasa, dengan menganggap bahwa segala sesuatu selalu memiliki arti atau alasan, dan dengan menganggap bahwa eksisnya arti atau alasan tersebut pada dasarnya hanya penyematan belaka, segala hal, pada dasarnya, mempunyai alasan pada dua tingkatan: tingkatan sadar dan tingkatan bawah sadar.
Hal ini, bagi saya, menjelaskan pemikiran saya mengenai alasan atau arti suatu hal, atau suatu tindakan, yang terkadang hanya terlihat pada tingkatan-tingkatan cara pandang tertentu. Suatu hal, atau suatu tindakan, sesulit apapun kita dalam melihat alasan atau arti di baliknya, semata-mata terletak pada ketidakmampuan diri sendiri melihat dalam tingkatan cara pandang yang berbeda. Ketidakmampuan ini biasa disalahartikan dengan pernyataan, “kadang memang tidak dibutuhkan suatu alasan untuk suatu tindakan”.
Penyalahartian ketidakmampuan diri tersebut sebenarnya tidak terlalu salah. Penyalahartian tersebut dianut dan dapat dipandang sebagai cara mudah untuk melakukan sesuatu yang dirasa penting, namun tidak dapat diartikulasikan dengan baik karena adanya suatu batasan-batasan tertentu. Terkadang, sesuatu yang tidak dapat diartikulasikan dengan baik, bukan berarti sesuatu tersebut salah atau tidak ada. Hal ini bisa saya simpulkan,
“terkadang suatu hal itu penting, namun terkadang pula sangat sulit untuk disampaikan dengan baik, yang menyebabkan suatu hal tersebut menjadi hilang atau berkurang derajat kepentingannya.”
Kesimpulannya, terkait hal yang saya alami, yang mengantarkan saya ke dalam pemikiran-pemikiran tersebut, saya merasa, sangat dimungkinkan bahwa ada alasan-alasan yang masih tersembunyi di dalam alam bawah sadar saya yang selalu mendorong saya untuk menuliskan sebuah blog pribadi. Ada alasan-alasan yang belum sampai pada permukaan alam sadar saya, sehingga saya terkadang hanya bisa berteriak,
“I know it is important to me, but I can’t really fathom ’why’!”